Tafsir Suroh Maryam ayat 56 - 57

Jumat, 18 Mei 2012

    

                                                                   

 وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِدْريسَ إِنَّهُ كانَ صِدِّيقاً نَبِيًّا َ
(56) Dan ingatlah di dalam Kitab dari­hal Idris. Sesungguhnya dia ada­lah seorang yang sangat benar, lagi seorang Nabi.

وَ رَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا َ
(57) Dan telah Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.

Nabi Idris a.s.
وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِدْريسَ
"Dan ingatlah di dalam Kitab darihal Idris." (pangkal ayat 56).

Nama Nabi ldris ini tersebut di dalam al-Quran hanya dua kali. Pertama pada ayat ini, Maryam; 56. Kedua pada Surat 21, al-Anbiya', ayat 85; disebut nama beliau sesudah Ismail juga, dan sesudah ldris disebut Al-Kifli. Ketika Rasulullah s.a.w. Mi'raj ke langit beliau menyatakan bertemu Nabi ldris itu pada langit yang keempat.

Banyaklah ceritera orang di sekitar diri Nabi yang satu ini meskipun hanya dua kali tersebut dalam al-Quran. Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas ldris itu adalah seorang tukang jahit (Khayyath). Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa setiap beliau menusukkan jarumnya ke kain selalu beliau membaca zikir "Subhanallah" (Amat Sucilah Allah). Begitulah terus dia bekerja dan berusaha sehari-harian sampai petang. Dipujilah beliau oleh Tuhan di ujung ayat ini:

إِنَّهُ كانَ صِدِّيقاً نَبِيًّا
"Sesungguhnya dia adalah se­orang yang sangat benar, lagi seorang Nabi." (ujung ayat 56).
SHIDDIQ kita artikan sangat benar, atau sangat jujur, tidak banyak bahkan tidak ada belat dan belit. Dan beliau pun adalah Nabi Allah, orang yang dipercayai oleh Allah menyampaikan wahyuNya.

Di dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa Nabi ldris itulah manusia yang mula-muia menulis dengan qalam. Yang mula-mula menjahit dengan jarum. Yang mula-mula mengetahui ilmu bintang dan ilmu hisab. Dia bernama Idris, yang diartikan belajar karena dia banyak sekali belajar Kitab Allah. Ada disebut bahwa kepadanya diturunkan 30 Shuhuf.

Ada yang mengatakan Idris itu ialah Ukhnukh. Nenek dari Nabi Nuh. Nuh anak Lamak anak Matusyalakh anak Ukhnukh! . Dalam silsilah keturunan itu ada disebut bahwa Lamak itu anak dari Matusyalakh dan Matusyalakh anak dari Ukhnukh atau disebut juga Henokh, anak dari Jared, anak dari Mahlael, anak dari Qinan, anak dari Syits, anak dari Adam.

Mungkin karena menyangka bahwa Idris ini adalah Ukhnukh, atau disebut juga Henokh, terbiasalah orang menyebut susunan Nama Nabi-nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, nama Idris selalu terletak pada nomor dua; Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'kub, Yusuf, Luth, Syu'aib, dan seterusnya.Tetapi nampaknya menetapkan Idris adalah Ukhnukh (Henokh) hanyalah kemungkinan saja, bukan kepastian. Malah Sayid Jamaluddin al-Qasimi di dalam Tafsinya "Mahasin ut-Ta'wil" berkata: "Idris itu ialah Ilyas yang akan datang sebutannya kelak dalam Surat ash-Shaffat. Di dalam Taurat Ilyas itu disebut Elya."

Tetapi Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahirnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan IDRIS ialah Oziris atau Azoris, dan kalimat Idris adalah ucapan nama itu dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa atau Yesus diucapkan dalam bahasa Arab dengan Isa; Yohannes dalam bahasa Yunani diucapkan dalam bahasa Arab Yahya. Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir purba­kala dan membawa ajaran-ajaran dan perobahan yang besar-besar. Di dalam sejarah-sejarah Kuno Mesir disebutkan bahwa Idris itu meninggal karena di­bunuh oleh saudaranya sendiri karena dengki akan pengaruhnya yang besar. Lalu dipotong-potong badannya untuk dihancurkan. Tetapi sepotong dari badan itu dipelihara oleh isterinya dan dibalsem; pembalseman mayat itulah kelaknya yang menjadi kepandaian yang utama dari orang Mesir purbakala.

Syaikh Thanthawi menguraikan panjang lebar, bahwa di zaman purbakala bangsa Mesir itu di antara Kerajaan dengan agama adalah satu, sehingga Idris itu pun merangkap juga raja. Itulah sebab dia didengki oleh saudaranya. Namun setelah dia mati orang Mesir memuliakan sekalian jasanya yang besar-­besar. Kata dongeng mereka, setelah seorang raja besar atau orang besar mati, bersidanglah hakim-hakim 42 orang banyak anggotanya memusyawaratkan dan mempertimbangkan tentang kebaikan atau keburukan raja semasa hidup­nya. Rupanya kebaikan Oziris atau Idris itu lebih banyak dan lebih berat dari­pada keburukannya; maka ditempatkanlah dia pada tempat yang amat tinggi dan agung di alam lain. Dan beratus tahun lamanya sesudah Oziris mati, selalu dipertimbangkan kebaikan dan keburukan penguasa. Kalau ternyata kebaikan­nyalah yang banyak, dianggaplah bahwa tempatnya di alam lain ialah di tempat yang ditempati oleh Oziris.

Sayid Quthub di dalam "Fi Zhilalil Quran"pun memberatkan pendapatnya kepada pendapat Syaikh Thanthawi Jauhari ini, bahwa besar kemungkinan bahwa Idris ialah Oziris yang ternama dalam Sejarah Mesir Purbakala itu.

Niscaya di dalam tafsir-tafsir yang lama sejak Thabari, ar-Razi, al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan yang sezaman tidak bertemu kemungkinan Oziris itu, dan baru bertemu pada Tafsir Syaikh Thanthawi Jauhari pada sekitar tahun 1928, atau pada Tafsir Sayid Quthub selepas tahun 1955. Sedang Tafsir AI-Manar Sayid Rasyid Ridha hanya sampai pada Surat Yusuf saja (Juzu' 13). Karena Ilmu hasil penyelidikan kebudayaan dan Peradaban Bangsa Mesir Kuno, yang terkenal dengan nama "Egyptologi" barulah tumbuh sejak permulaan Abad Kesembilan­ belas , sejak para sarjana dapat membuka kunci rahasia Huruf Hyroglefy, huruf bangsa Mesir Kuno itu. Dari hasil penyelidikan yang baru berusia 165 tahun itu­lah didapat ceritera tentang orang besar Mesir yang bernama Oziris itu. Dan ajaran-ajaran Oziris yang didapat dari huruf-huruf Kuno itu bertemu pokok ajaran Tauhid. Cuma setelah lama kemudian sepeninggal dia, setelah pada mulanya hakim-hakim mengakui bahwa jasanya sangat besar, maka beliau di­tempatkan di tempat yang Maha Tinggi di alam lain, maka beliau pulalah yang dipertuhan orang, dipuja dan disembah, sebagai dilakukan orang Kristen kepada Isa Almasih atau orang Budha kepada Bodhisatwa.

Maka tersebutlah pada lanjutan ayat:

وَ رَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا َ
"Dan telah Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi." (ayat 57).

Sedianya akan sederhana sajalah penafsiran daripada ayat ini. Di ayat 56 sebelumnya, Allah telah memujikan keistimewaan Idris, bahwa dta adalah se­orang yang sangat benar, sangat jujur, artinya seorang yang lurus: sesuai dengan pengangkatan Allah atas dirinya menjadi Nabi. Oleh karena sangat jujur, sangat benar dan sangat lurusnya itu, sudah pastilah Martabatnya di­angkatkan Allah kepada tempat yang tinggi dan agung. Di dalam Surat 58 al-Mujadilah ayat 11 Tuhan bersabda:

وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ
"Akan diangkatkan oleh Allah orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Maka tinggilah kedudukan Idris itu karena jujurnya dan lurusnya.
Tetapi rupanya tidaklah "mereka itu" merasa puas kalau tempatnya yang diangkatkan tinggi itu tidak ditafsirkan dengan ganjil.
Di sini akan kita salinkan beberapa ceritera tentang diangkatkan Nabi Idris ini yang ganjil-ganjil.
Adapun yang pokok, yang masuk di akal dan dapat difikirkan ialah sebuah riwayat yang dirawikan oleh Bukhari yang diterimanya dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, bahwa dia mendengar sahabat Rasulullah s.a.w. Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Nabi s.a.w. menceriterakan tatkala beliau Mi'raj ke langit beliau bertemu Nabi-nabi Allah di tiap-tiap langit dan bertemu Nabi Idris di langit yang keempat. Demikian juga dalam riwayat yang disampaikan oleh Muslim dari Malik bin Sha'sha'ah.

Beberapa ahli tafsir menjadikan Hadits-hadits Mi'raj itu akan alasan menguatkan bahwa Nabi Idris itu diangkatkan Tuhan ke tempat yang tinggi. Maka kalau Hadits-hadits itu yang dijadikan alasan, niscaya bukanlah Nabi Idris saja yang diangkatkan martabatnya. Sudahlah selayaknya sekalian Nabi di­angkatkan kemuliaannya, sehingga Nabi kita s.a.w. berjumpa dengan setengah mereka pada langit ketujuh tingkatnya itu; ada yang di langit pertama, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai yang ketujuh. Tetapi ceritera tentang ldris tidaklah dicukupkan orang sehingga itu saja.

Beberapa ceritera akan kita salinkan dalam tafsir ini tentang din Nabi Idris itu:
1. Disalinkan oleh al-Qurthubi di dalam Tafsirnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abbas dan Ka'ab al-Ahbar bahwa Nabi Idris itu diangkat­kan ke langit. Sebabnya maka beliau diangkat ke langit ialah, karena pada suatu hari beliau berjalan kaki menuju suatu maksud maka sangatlah lelahnya dalam perjalanan itu karena dari teriknya Matahari. Lalu berkatalah dia: "Ya Tuhanku! Berjalan baru satu hari aku telah sangat lelah, bagaimanalah halnya yang memikul bumi ini 5 tahun! Ringankanlah kiranya bagi yang memikul bumi ini akan beratnya." Yang dia maksud ialah malaikat yang ditugaskan Allah memikul falak Matahari ini. Dan Idris menyambung doanya pula: "Ya Allah ringankanlah keberatannya dan kurangi kiranya panasnya."

Tatkala hari mulai pagi terasalah oleh malaikat yang memikul Matahari itu bahwa yang dipikulnya lebih ringan dari biasa dan cahayanya tidak begitu panas lagi menimpa dirinya, yang sebelum ini belum pernah dialaminya. Lalu berdatang sembahlah malaikat itu kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Engkau ciptakan daku untuk memikul Matahari. Sekarang apa yang telah terjadi makanya dia jadi lebih ringan?" Maka bersabdalah Tuhan: "Hambaku yang bernama Idris memohon kepadaKu agar Matahari itu diringankan dan panasnya dikurangi, lalu Aku kabulkan!'' Maka berkata malaikat itu: "Ya Tuhan, pertemukan kiranya aku dengan dia, clan jadikan kiranya di antara kami berdua persahabatan yang kekal!"

Permohonan malaikat itu dikabulkan Tuhan, sehingga datanglah malaikat itu menemui Nabi Idris. Lalu Idris berkata kepadanya: "Aku mendengar berita bahwa persahabatan engkau dengan Malaikat Maut sangat karib pula. Maukah engkau memintakan kepa.da Malaikat Maut itu agar dia suka melambatkan ajalku, supaya bertambah-tambah aku bersyukur kepada Allah dan bertambah-­tambah pula aku beribadat?"

Malaikat itu menjawab: "Tidak Allah menta'khirkan ajal seseorang bila­mana ajal itu telah datang."
Lalu Idris berkata: "Aku tahu hal itu, tetapi ingin juga aku berkenalan dengan Malaikat Maut itu untuk menyenangkan hatiku."

Maka dibawalah Idris oleh malaikat pemikul Matahari itu di dalam sayap­nya lalu digunggungnya terbang ke langit, dan diletakkannya di dekat tempat Matahari terbit. Setelah itu dia pun pergi menemui Malaikat Maut, seraya berkata: "Hai Malaikat Maut! Saya ada mempunyai seorang sahabat dari Anak Adam, dia meminta tolong kepadaku agar aku menyampaikan permohonan­nya kepada engkau, supaya ajalnya diperlambatkan." Malaikat Maut menjawab: "Kewajibanku tidaklah sampai begitu jauh. Tetapi kalau engkau ingin rnengetahui, aku dapat memberitahukan kepada engkau bila dia akan mati, supaya engkau sampaikan berita itu kepadanya." Malaikat pemikul Matahari menjawab: "Baiklah!" Maka mulailah Malaikat Maut memeriksa daftarnya. Setelah diperiksanya lalu Malaikat Maut berkata: "Telah saya selidiki dengan teliti, nampaknya kawanmu itu tidak akan mati selama-lamanya." "Mengapa begitu," tanya Malaikat pemikul Matahari. "Saya dapati dia akan mati di tempat Matahari terbit." Dengan herannya Malaikat pemikul Matahari berkata: "Seketika saya datang kepada engkau ini, dia saya tinggalkan di dekat tempat Matahari terbit." Malaikat Maut menjawab: "Segeralah engkau kembali ke sana. Sesampai engkau di sana nanti akan engkau dapati dia telah mati, maka demi Allah, tidak ada lagi sisa dari ajal Idris." Setelah Malaikat pemikul Matahari melihatinya ke sana, didapati memang dia telah mati." Sekian ceritera dari Ka'ab al-Ahbar.
2. Ceritera dari as-Suddi lain lagi Dia berkata: "Pada suatu hari Idris itu tidur nyenyak. Tiba-tiba dia terbangun karena sangat teriknya panas Matahari, lalu dia bangun sangat kepayahan lantaran panas. Lalu dia berdoa: "Ya Allah, ringankanlah kiranya bagi Malaikat yang memikul Matahari ini akan beratnya dan kurangi kiranya panasnya, karena telah sama rasanya dengan gejala api neraka."

Tiba-tiba setelah hari pagi Malaikat pemikul Matahari itu pun telah di­dudukkan Tuhan di atas kursi daripada nur, dikelilingi oleh 70.000 malaikat sebelah kanannya dan 70,000 pula sebelah kirinya; semua berkhidmat kepada­nya, melaksanakan apa yang diperintahkannya. Maka berkatalah Malaikat pemikul Matahari itu: "Ya Tuhanku, dari sebab apa semuanya ini"?" Tuhan bersabda: "Seorang Anak Adam bernama Idris mendoakan untuk­mu!" (Lalu as-Suddi berceritera pula menurut jalan cerita pada Hadis Ka'ab al-Ahbar di atas tadi. Yaitu sampai malaikat itu datang menjumpai Idris). Lalu berkatalah Malaikat pemikul Matahari itu: "Adakah sesuatu hajatmu yang akan dapat aku tolong"?" ldris menjawab: "Memang ada! Aku ingin sekali hendak melihat bagaimana rupanya dalam syurga itu." Permintaan Idris itu dikabulkannya. Lalu ldris dibawanya terbang dalam sayapnya.

Sesampai mereka pada langit tingkat keempat, tiba-tiba berselobok­lah mereka dengan Malaikat Maut sedang memandang-mandang ke langit, ke kanan dan ke kiri. Melihat dia datang, Malaikat Matahari mengucapkan salam kepadanya. Dan kepada Idris dia berkata: "Hai Idris! Ini Malaikat Maut datang, ucapkan pulalah salam kepadanya."
Mendengar perkataan Malaikat pemikul Matahari itu berkatalah Malaikat Maut: "Subhanallah! Dengan maksud apa dia engkau bawa terbang kemari?" Maka berkatalah Malaikat Maut: "Heran ! , Allah memerintahkan kepadaku pergi menjemput nyawa Idris itu di langit keempat. Lalu aku bertanya kepada Tuhan: "Ya Tuhanku! Mengapa pula Idris itu akan sampai ke langit keempat? Tiba-tiba dia sudah berada di sini bersama engkau!"

Maka diambillah rohnya oleh Malaikat Maut di langit keempat itu, lalu diangkat ke syurga, dan dikuburkan jasmaninya oleh malaikat-malaikat pada langit yang keempat itu. Itulah artinya ayat Allah: "Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang amat tinggi."
Sekian pula ceritera as-Suddi.
3. Menurut riwayat Wahab bin Munabbih pula: "Idris itu sangat shalih. Setiap hari amal ibadatnya yang shalih itu dilaporkan ke langit sebagaimana laporan amal-amal makhluk yang lain juga. Oleh karena banyak amal yang di laporkan, maka sangat kagumlah sekalian malaikat yang ada di langit atas orang yang bernama Idris ini. Siapa benarkah orangnya. Sampai Malaikat Maut sendiri sangat ingin hendak berkenalan dengan dia. Maka pada suatu hari minta izinlah Malaikat Maut itu hendak datang menziarahi Idris, lalu diberi izin oleh Tuhan. Lalu datanglah Malaikat Maut menziarahinya dengan merupakan dirinya sebagai seorang Anak Adam saja. Waktu tetamunya itu datang, beliau sedang puasa.

Seketika datang waktu berbuka Idris mengajak tetamunya itu bersama makan, tetapi tetamu itu tidak mau. Sudah sampai tiga hari berturut-turut. Idris puasa, tetamu diajak makan dan ketiga harinya dia tidak mau. Maka heranlah Idris, lalu dia bertanya: "Siapa sebenarnya engkau ini? Katakanlah!° Malaikat Maut menjawab: "Saya ini adalah Malaikat Maut! Saya telah minta izin kepada Tuhanku hendak menziarahi engkau dan telah diberi izin."
Idris berkata: "Saya ada keinginan kepada engkau, sudilah engkau mengabulkannya."
"Apakah itu?" Tanya Malaikat Maut. Idris menjawab: "Cabutlah nyawaku!"
Maka datanglah wahyu Tuhan kepada Malaikat Maut mengabulkan per­mohonan Idris itu, nyawanya pun dicabut. Tetapi hanya sesaat seketika saja, nyawa itu pun dikembalikan ke dalam dirinya, sehingga dia hidup kembali.
Lalu Malaikat Maut bertanya: "Apakah faedah nyawamu dicabut lalu dikembalikan pula?"
Jawab Idris: "Supaya aku rasakan kesukaran maut itu, supaya aku lebih bersedia lagi menunggunya."
Sesaat kemudian Idris berkata pula: "Ada pula permintaanku yang lain sekarang!"
"Apa yang engkau minta?" Tanya Malaikat Maut.
Jawab Idris: "Angkat aku ke langit, supaya aku dapat melihat syurga dan neraka."
Maka diberi izinlah Malaikat Maut,oleh Allah membawa ldris terbang ke langit. Mulanya dibawalah beliau melihat neraka. Setelah dilihatnya bagaimana hebatnya, pingsanlah Idris. Setelah dia siuman dari pingsannya, dia berkata: "Segera bawa aku melihat syurga!" Permintaannya itu-pun dikabulkan. Dia dibawa oleh Malaikat Maut melihat syurga. Sampai masuk ke dalamnya. Setelah lama menunggu di dalam, Malaikat Maut berkata: "Keluarlah lekas, supaya aku hantarkan engkau kembali ke tempatmu." ldris menjawab: "Aku tidak mau keluar lagi dari sini!" Lalu dia berpegang teguh pada satu pohon kayu.

Setelah terjadi soal-jawab yang demikian di antara Malaikat Maut dengan Idris, diutus Allahlah seorang malaikat akan menjadi perantara dan pendamai. Lalu Malaikat itu bertanya: "Mengapa engkau tidak mau keluar?" ldris men­jawab: "Karena Allah telah bersabda:
كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ
"Tiap-tiap nyawa akan merasakan maut."
(Surat 3, ali Imran, 185 ,Surat 21, 35. Surat 29, 57).
"Dan saya telah merasakannya."
Dan Allah pun bersabda:
وَ إِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وارِدُها
"Tidak seorang pun di antara kamu melainkan akan melaluinya." (Surat 19, Maryam ayat 71).
"Dan saya telah melalui neraka itu."
Dan Tuhan pun bersabda pula:
ٌ وَما هُمْ مِنْها بِمُخْرَجينَ
"Dan tidaklah mereka dari dalamnya akan dikeluarkan lagi." (Surat 15, 48).
"Sekarang saya telah masuk ke dalam syurga ini, mengapa saya akan dikeluarkan lagi?"
Berkata Wahab bin Munabbih selanjutnya:

"Maka bersabdalah Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dengan izinKu dia masuk ke dalam syurga, maka dengan izinKu pula baru dia boleh dikeluarkan." Maka hiduplah dia di sana sekarang ini.
Kata Wahab bin Munabbih seterusnya: "Idris itu kadang-kadang ber­keliling-keliling dalam syurga, dan kadang-kadang dia beribadat kepada Allah bersama-sama dengan beribu malaikat di langit." Sekian ceritera Wahab bin Munabbih.

Begitulah tafsir dari Wahab bin Munabbih tentang Nabi Idris diangkat Tuhan ke maqam yang tinggi itu.
Bertemu pula ceritera yang lain di dalam Tafsir AI-Mizan, karangan ulama Syi'ah yang terkenal Sayid Muhammad Husain ath-Thabathabaai, suatu riwayat di dalam kitab mereka yang bernama "Kamaluddin wa Tamamun-ni'mah" dengan sanadnya dari Ibrahim bin Abil-Bilad dari ayahnya dan ayahnya itu menerima dari AI-Baqir dalam sebuah Hadits yang panjang yang diringkaskan begini:
"Pada permulaan nubuwwat Idris itu, adalah seorang raja yang sangat zalim dan menganiaya rakyatnya. Pada suatu hari raja itu pergi bertamasya ber­lepas-lepas lelah. Maka melintaslah baginda di satu tumpak tanah yang amat subur menghijau. Melihat kesuburan itu, timbullah keinginan sang raja hendak memilikinya. Sedang tanah itu adalah kepunyaan seorang hamba Allah yang beriman. Lalu baginda suruh panggil hamba itu menghadapnya dan dibujuk­nya supaya suka menjual tanahnya. Tetapi hamba itu tidak mau menjual. Dengan hati kesal pulanglah raja itu ke istana. Kecewa hatinya bukan kepalang. Lalu diajaknya seorang di antara isterinya berunding, bagaimana sikap yang baik terhadap tanah itu. Sebab isterinya tersebut kerapkali memang telah di­ajaknya berunding dalam hal-hal yang penting. Lalu isteri memberikan nasihat agar hamba yang empunya tanah itu dituduh saja hendak rnemberontak me­lawan raja, diadakan saksi-saksi yang akan menguatkan tuduhan. Lalu orang itu dihukum bunuh. Sesudah dia dibunuh dapatlah tanahnya itu dikuasai raja.

Raja langsung melakukan siasat yang dinasihatkan oleh isterinya itu. Maka datanglah wahyu llahi kepada Idris, supaya Idris datang menemui raja itu dan berkata kepadanya: "Apakah senang hatimu hai raja, engkau bunuh seorang hambaKu yang beriman dengan aniaya, lalu kamu rampas tanahnya untuk kepentingan dirimu sendiri, dan engkau jadikan miskin porak-poranda segala keluarganya, dan engkau jadikan mereka kelaparan ? Ketahuilah olehmu hai raja, demi Kemuliaan dan KebesaranKu; Aku akan balaskan dendam hambaKu yang engkau aniaya itu lambat-laun, tetapi kerajaanmu ini akan Aku rampas dari tanganmu secepat-cepatnya. Negeri dan kotamu akan Aku hancurkan, engkau yang mulia akan Aku hinakan, dan akan Aku jadikan makanan anjing daging isteri yang memberimu nasihat itu; bahkan.engkau telah dipesona oleh kasih-sayangKu kepada engkau selama ini ."

Idris pun pergilah melaksanakan perintah Tuhan itu, didatanginya raja tersebut, disampaikannya wahyu yang diterimanya itu di hadapan para peng­ikut dan orang-orang besar kerajaan. Mendengar ancaman yang dernikian, bukanlah raja jadi insaf, bahkan meluap-luap kemarahannya. Lalu disuruhnya mengusir Idris dari majlis itu ,dan dengan nasihat dari isterinya disuruh pula orang-orang yang akan mengikutinya dari belakang langsung membunuhnya. Tetapi maksud yang jahat itu diketahui oleh pengikut-pengikut Idris yang setia. Maka mereka anjurkanlah kepada Idris agar segera keluar dari negeri itu dan hijrah ke negeri lain. Lalu Idris melaksanakan anjuran pengikut-pengikutnya itu dan bersama mereka dia keluar dari negeri itu di hari itu juga. Maka bermuna­jatlah Idris kepada Tuhan, mengadukan halnya yang dibuat demikian oleh raja seketika dia menyampaikan wahyu Tuhan kepadanya. Maka datang pulalah wahyu menyuruh Idris segera berangkat dari tempat itu Dan Tuhan menegas­kan dalam wahyunya bahwa apa yang telah ditentukan Tuhan terhadap raja dan negerinya itu pasti dilaksanakan. Lalu Idris mendoa kepada Tuhan, agar jangan diturunkan hujan ke negeri itu dan sekelilingnya, sampai Idris sendiri memohonkannya. Permintaan Idris itu dikabulkan Tuhan.
Semua pengikut Idris pun keluarlah dari negeri itu, bersebar ke mana-­mana , 20 orang banyaknya. Maka tersebarlah berita Nabi Idris mendapat wahyu itu dan dia keluar meninggalkan negeri. Beliau pun keluar menyisihkan diri ke dalam sebuah gua (Kahfi) di puncak gunung yang tinggi. Di sanalah beliau duduk beribadat kepada Allah dan berpuasa setiap hari. Ada malaikat yang sengaja membawakannya makanan tiap hari petang.

Tidaklah lama sepeninggalnya pergi, kehendak Tuhan pun berlakulah ke atas raja itu dan isterinya dan negerinya. Dia jatuh dari kekuasaan. Lalu naik pula raja lain menggantikan tempatnya, yang tidak pula kurang zalim aniaya dari raja yang dahulu. Tetapi malanglah negeri itu sebab hujan tidak pernah turun sampai 20 tahun lamanya, sehingga sengsaralah semua. Setelah keseng­saraan itu tidak tertahankan lagi, karena haus dan kering, adalah yang ingat bahwa semuanya ini adalah karena doa Idris. Bahwa dia memohon kepada Allah agar hujan ditahan dari negeri itu sampai Idris sendiri memohonkan supaya diturunkan. Semua teringat bahwa Idris telah lama meninggalkan negeri, tetapi tidak seorang pun yang tahu ke mana perginya dan di mana dia sekarang. Mereka berpendapat bahwa bahaya ini hanya dapat dihilangkan kalau Idris pulang kembali, dan mereka berjanji akan taubat semua kepada Allah.

Maka bertaubatlah mereka semuanya kepada Allah, sehingga jatuh kasihanlah Allah akan nasib mereka. Lebih-lebih mereka selalu berkumpul dan berdoa dengan segala kerendahan hati dan menghinakan diri.
Maka Allah pun menurunkan wahyuNya pula kepada Idris, menyatakan bahwa kaum itu telah taubat kepada Tuhan, telah meminta ampun dan selalu menangis menyesali diri. Aku telah kasihan melihat mereka. Tidak ada yang menghalangi Aku akan menurunkan hujan kepada mereka, melainkan hendak bertukar fikiran (munazharah) terlebih dahulu dengan engkau. Karena engkau pernah memohon hujan jangan diturunkan sampai engkau sendiri memohon­kannya. Sekarang segeralah engkau mohonkan hujan itu turun, supaya Aku turunkan."
Idris menjawab: "Ya Allah, ya Tuhanku! Aku belum hendak meminta hujan itu diturunkan."

Mendengar jawabannya yang demikian, Allah pun menahan pula malaikat yang selalu membawakannya makanan setiap petang hari itu supaya hentikan dahulu datang kepadanya. Tiga hari lamanya malaikat itu tiada datang , sehingga Idris sudah sangat kelaparan. Lalu dia menyeru kepada Tuhan: "Ya Tuhanku! Telah engkau tahan rezekiku sebelum Engkau cabut nyawaku."
Lalu Tuhan mendatangkan wahyuNya: "Hai Idris! Baru tiga hari Aku tahan makananmu engkau telah gelisah. Namun engkau tidak merasakan gelisah telah 20 tahun kaummu lapar. Aku anjurkan supaya engkau mohonkan hujan turun kepadaKu, namun engkau tidak juga mau segera memintakan mereka hujan. Sekarang aku ajar engkau dengan kelaparan! Segeralah engkau turun dari tempatmu bersunyi diri ini dan berusaha sendirilah mencari makan dengan tenagamu sendiri!"

Maka turunlah Idris ke sebuah dusun di sana. Dari jauh kelihatan olehnya sebuah rumah yang dari dalamnya mendulang asap. Lalu ditujunya rumah itu dan terus dimasukinya. Didapatinya seorang perempuan tua sedang memasakkan dua lokan besar. Lalu dimintanya kepada orang tua itu supaya dia diberi sebahagian dari makanan itu, karena dia sudah sangat lapar. Maka orang tua itu menjawab: "Hai Hamba Allah! Doa Idris tidak ada meninggalkan sisa untuk kami yang akan kami makan." Perempuan itu bersumpah bahwa dia tidak ada mempunyai makanan lain dari kedua lokan itu. Sebab itu engkau pergilah ke penduduk lain di dusun ini, mungkin di sana ada makanan. Idris mendesak juga: "Berilah aku makanan itu, supaya aku dapat hidup, dan kakiku dapat aku langkahkan mencari makanan ke tempat lain."

Orang tua itu menjawab pula: "Aku hanya mempunyai dua lokan. Sebuah untuk aku dan yang sebuah lagi untuk anakku ini. Kalau aku berikan yang se­ekor bahagianku, akulah yang mati kelaparan. Dan kalau aku berikan kepada mu yang bahagian anakku, dia pula yang akan mati. Sedang persediaan yang lain tidak ada."
Idris menjawab: "Anakmu masih kecil. Cukup baginya separuh. Berilah bagi tiap-tiap kami separuh seorang." Akhirnya perempuan tua itu suka juga. Setelah anak kecil itu melihat lokan yang bahagian dia dikurangi dan yang separuh dimakan Idris, menggigil badannya lalu mati! Melihat kejadian itu memekiklah ibunya, seraya berkata: "Hai Hamba Allah! Engkau bunuh anakku, karena bahagiannya engkau rampas!"

"Jangan menangis hai orang tua! Aku akan menghidupkan anakmu kembali sekarang juga dengan izin Allah." Lalu dipegangnya bahagian tubuh anak itu sambil berseru: "Hai Roh yang telah keluar dari badannya. Dengan keheridak kekuasaan Allah kembalilah engkau kepada tubuhnya. Aku adalah Idris, yang jadi Nabi itu!" Dengan kekuasaan Tuhan tiba-tiba kembalilah roh itu dan hiduplah anak tersebut.

Setelah ibunya itu mendengar seruan Idris itu dan pernyataannya bahwa dia adalah Idris dan setelah dilihatnya pula kenyataan bahwa anaknya yang telah meninggal hidup kembali, keluarlah orang tua perempuan itu dari rumah nya diteriakkannyalah di sekitar kampungnya itu dengan suara yang keras: "Bergembiralah semuanya. Kita telah terlepas dari bahaya. Idris telah masuk ke dalam kampung kamu."

Maka muncullah Idris di kampung itu sehingga sampailah dia dan langsung duduk di bekas kota Raja Zalim yang pertama dahulu itu, yang telah berganti jadi tumpukan tanah. Orang pun berkerumunlah menemui dia. Semua meminta belas-kasihannya dan memohon kepadanya agar didoakan, supaya hujan lekas turun.

Idris berkata: "Permohonan kalian belum saya kabulkan sebelum raja yang zalim dan sekalian penduduk negeri kalian ini datang menghadap kepadaku dengan kaki telanjang."

Hal itu sampailah ke telinga raja yang zalim itu. Maka diutusnyalah 40 orang utusan datang menangkap Idris itu dan membawanya segera meng­hadap raja. Setelah mereka berhadapan dengan Idris, mereka cobalah melakukan paksaan hendak membawa Idris menghadap raja. Tetapi ke40 orang itu didoakan oleh Idris kepada Tuhan, sehingga matilah mereka semuanya. Lalu raja mengirim. pula 500 orang lagi untuk memaksa Idris menurut, dan datang menghadap raja. Tetapi setelah mereka lihat jenazah dari 40 orang teman mereka yang terdahulu telah bergelimpangan, mereka pun mundur. Maka ber­katalah Idris: "Saya tidak akan pergi menghadapnya. Melainkan raja itulah yang mesti datang menghadapku diiringkan oleh seisi negeri dengan kaki telanjang (tidak beralas kaki), lalu menyampaikan permohonan kepadaku agar turun hujan."

Mereka pun kembalilah kepada raja dan mereka khabarkan apa kata Idris itu, dan mereka mohonkan kepada raja supaya baginda datang menghadap Idris diiringkan oleh seisi negeri dengan kaki telanjang. Lalu sampaikanlah per mohonan kepadanya, agar dia memohonkan kepada Tuhan, supaya hujan di­turunkan segera. Maka mengalahlah raja; dengan diiringkan oleh seisi negeri mereka berjalan berduyun-duyun pergi menghadap Idris, memohonkan supaya Allah menurunkan hujan. Permohonan mereka itu pun segeralah dikabulkan Idris dan segeralah dia memohonkan hujan kepada Tuhan. Tiba-tiba kelihatan­lah awan di langit berarak menjadi mega dan tebal. Lalu kedengaranlah bunyi guruh dan halilintar dan kilat sabung-menyabung, dan turunlah hujan laksana dicurahkan dari langit, sehingga dari sangat lebat hujan mereka sangka akan tenggelamlah mereka. Mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan basah kuyup."  Inilah ceritera dari sebuah riwayat yang di­salinkan oleh ahli Tafsir Syi'ah terkemuka Sayid Muhammad Husain ath­Thabathabaai .

Diriwayatkan pula oleh al-Hakim di dalam kitab Haditsnya "AI-Mustadrik" bahwa Idris itu adalah putih warna kulitnya, tinggi semampai, tegap dan luas bidang dadanya, sedikit bulu ditubuhnya tetapi lebat rambut di kepalanya, dan salah satu dari kedua matanya lebih besar dari yang lain, di dadanya ada tanda titik putih, tetapi bukan penyakit balak.
Setelah Allah melihat bagaimana ke­zaliman telah meratai muka bumi dan aniaya manusia atas manusia dan pelanggaran kepada hukum-hukum Allah, diangkatkan Allahlah dia ke langit yang keenam. Itulah yang dimaksud dengan "Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi."

Al-Qafthi mengatakan dalam kitabnya "Ikhbarul Ulama bi Akhbaril Hukama"' tentang Idris bahwa banyak selisih ahli-ahli tentang dirinya, lahirnya dan hidupnya dan dari siapa dia menuntut ilmu sebelum jadi Nabi. Segolongan mengatakan bahwa Idris itu dilahirkan di Mesir, nama aslinya Hermus, di negeri Menfis. Kata mereka pula: "Kata asalnya Hermus, dalam bahasa Yunani Ermis. Ermis ialah nama bintang 'Utharis." Dan macam-macam lagi yang lain.
Maka dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa sebahagian besar dari ceritera-ceritera ini adalah termasuk "Israiliyat" yaitu dongeng-dongeng yang dimasukkan oleh orang-orang Yahudi yang masuk ke dalam Islam, tetapi memasukkan pengaruhnya ke dalamnya. Ka'ab al-Ahbar, Wahab bin Munabbih adalah dua orang yang banyak sekali menyelipkan ceritera dernikian. As-Suddi pun turut-turutan pula. Jika tersebut nama Ibnu Abbas atau Ibnu Umar dalam golongan yang membawakan riwayat-riwayat ini, belumlah akan menjadi jaminan dari kebenaran berita ini. Sebab kadang-kadang ahli tafsir sebagai Ibnu Abbas telah banyak di"catut"kan orang namanya dengan maksud tertentu.

Dapatlah kita mempertimbangkan bahwa sebahagian besar ceritera itu sangat berlawan dengan ayat memuji Idris yang tengah kita tafsirkan.Di dalam ayat 56 ini telah disebutkan bahwa Idris adalah SHIDDIQ. Yang berarti bahwa dia adalah sangat membenarkan, sangat jujur. Seorang saja sahabat Nabi kita, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq mendapat gelar yang demikian tinggi. Maka kita ketahui betapa hidup Abu Bakar itu dengan segenap ke­jujuran. Apa pun yang terjadi namun dia tetap dalam shiddiqnya. Berpegang dengan pendirian itu, walaupun apa yang akan terjadi.

Siti Maryam ibu Isa, yang namanya diambil jadi nama Surat 19 ini pun diberi pula panggilan AS-SHIDDIQAH (Surat 5, al-Maidah ayat 75). Dan kita pun tahu bagaimana suci perjuangan Maryam ibu Isa itu. Nabi Yusuf pun diakui oleh pegawai Raja Mesir itu "Yusuf, wahai orang yang Shiddiq!" (Surat 12. Yusuf ayat 46). Kita pun tahu bagaimana teguh dan setia Yusuf pada kejujuran, walaupun dia dimasukkan ke dalam penjara. Sehingga karena sangat Siddiqnya, ketika dia telah dipersilahkan keluar dari penjara, dia belum mau keluar sebelum ditentukan duduk perkara, "Kembali­lah kepada tuanmu, tanyakan kepadanya, betapa halnya dengan perempuan-­perempuan yang telah melukai jari tangannya itu?" Karena sesungguhnya Tuhanku lebih tahulah akan tipudaya mereka." (Surat 12, Yusuf: 50). Setelah perempuan-perempuan itu ditanyai kembali dan mereka telah mengeluarkan jawaban: "Maha sempurna Allah, tidaklah kami mengetahui atas dirinya itu suatu keburukan pun." (ayat 51). Setelah keluar penjelasan demi­kian, barulah Yusuf mau keluar dari dalam penjaranya.

Maka daripada ceritera perjuangan Saiyidina Abu Bakar as-Shiddiq sahabat pertama Rasulullah s.a.w. dan kisah-kisah Maryam yang suci yang ber­gelar as-Shiddiq di dalam al-Quran sendiri, ditambah lagi dengan kisah perjuangan dan kesabaran Yusuf di dalam Surat 12 di dalam al-Quran dapatlah kita memikirkan siapakah orang yang pantas disebut shiddiq. Di dalam Surat 4 an-Nisa' ayat 69 disebutkan Tuhan susunan orang-orang yang mulia sesudah Nabi-nabi: Yang pertama ash-Shiddiqin, kedua asy-Syuhada' dan ketiga ash­Shalihin. Di ayat 19 dari Surat 57, al-Hadid pun kedudukan ash-Shiddiqin itu setingkat jua lebih tinggi dari asy-Syuhada'.

Bagaimana dengan Idris, yang di ayat 56 ini disebutkan dua pangkatnya? Pertama Shiddiq kedua Nabi'?
Perasaan hormat dan iman kita kepada Nabi-nabi, sebagai yang tersebut di dalam Surat 57 al-Hadid ayat 19 itu tidakkah dapat menerima kisah yang dikarang mengenai din Nabi Idris itu.
Tidaklah dapat kita menerima kisah bahwa beliau dimatikan sesaat oleh Malaikat Maut, lalu dihidupkan kembali. Tidaklah dapat kita rnenerima bahwa beliau dibawa melawat ke dalam syurga lalu sampai di sana dia berpegang keras-keras dengan sebuah pohon kayu, (takut?) akan ditarik Malaikat Maut keluar kembali, karena dia berjanji hanya akan di dalam sebentar saja. Tidaklah dapat perasaan keagamaan kita menerima bahwa Allah sampai mengirim seorang malaikat pula buat men­damaikannya dengan Malaikat Maut dari pertengkaran itu.

Dan melihat ayat-ayat yang dijadikan alasan oleh Idris buat bertahan dalam syurga, tidak mau keluar, ialah ayat-ayat al-Quran, nyata sekali bahwa ceritera ini dikarang-karang kemudian. Karena sudahlah dapat kita merasakan sendiri bahwa wahyu-wahyu yang terkumpul dalam Kitab Suci al-Quran barulah turun kepada Nabi Muhammad s.a.w. beribu tahun sesudah Idris.

Kemudian itu tidaklah dapat kita menerima bahwa seorang Nabi yang ber­gelar SHIDDIQ sampai hatinya meminta kepada Tuhan supaya ditahan hujan, jangan diturunkan kepada suatu negeri yang rajanya zalim aniaya sampai 20 tahun lamanya. Dan perasaan kita pun tidaklah dapat menerima bahwa pen­duduk negeri itu telah tunduk berdoa, sampai menitikkan airmata, memohon ampun kepada Tuhan, namun Tuhan belum mau juga menurunkan hujan itu sebelum Idris sendiri yang memohonkan hujan itu kepada Tuhan.

Dan perasaan kita pun tidaklah dapat menerima jika dikatakan bahwa satu negeri ditimpa kemarau panjang sampai 20 tahun. Sedangkan terlambat saja agak enam bulan hujan tidak turun-turun, mungkinlah hancur segala tananam dan mati segala binatang ternak, entahlah manusia. Bagaimana kalau sampai 20 tahun.
Dan jiwa perasaan kita yang percaya kepada Nabi-nabi tidak pula dapat menerima kalau dikatakan bahwa Malaikat memikul Matahari pernah merasa keberatan memikul Matahari itu. Tidak dapat jiwa kita menerima kalau dikatakan bahwa Malaikat itu sampai sangat payah, sangat telah karena panas Matahari sangat terik menimpa dirinya.

Teranglah sudah bahwa ceritera begini "Israiliyat" yang dicoba men­cantumkan ke dalam Tafsir Al-Quran, karena ke dalam al-Quran sendiri tidak dapat dilakukan hal seperti itu. Sebagaimana telah dilakukan dengan memasukkan kisah Nabi-nabi yang besar berbuat perbuatan yang tidak dapat di­terima oleh jiwa yang beriman, yang disisipkan ke dalam kitab-kitab Perjanjian Lama:
(1) Nabi Luth berzina dengan kedua anak gadisnya, sampai keduanya dapat anak.
(2) Nabi Ya'kub mendustai ayahnya Ishak karena mengharapkan kepada­nya diberikan berkat yang sedianya akan diberikan kepada abangnya Esaf.
(3) Nabi Daud mengirim Pahlawan perangnya ke medan perang supaya mati di sana, karena hendak merampas isterinya.
(4) Sulaiman di hari tuanya dikatakan telah menyembah berhala, karena tertarik kepada persembahan yang disembah dan dipuja oleh isteri-isterinya yang banyak itu.
(5) Nabi Harun dikatakan mengajak Bani Israil kembali menyembah berhala, lalu turun bersama-sama bahkan memimpin membuat berhala `Ijil yang di dalam al-Quran disebut atas ajakan dari Samiri, sehingga Bani Israil banyak yang tersesat. Adapun yang disebutkan di dalam Perjanjian Lama (Keluaran 32) yang membuat berhala itu ialah Harun sendiri, sepeninggal Musa pergi menghadap Tuhan ke atas Thursina.

Melihat segala ceritera di dalam Perjanjian Lama yang semacam ini, menjadi kacaulah fikiran terhadap Nabi-nabi, Utusan Allah yang kita muliakan itu. Ada rupanya di antara mereka itu yang lebih jahat daripada manusia biasa. Seumpama Nabi Luth yang dikatakan bersetubuh dengan kedua anak perem­puannya, yang tua di malam pertama, yang kecil di malam kedua, dengan lebih dahulu diminumkan kepada beliau anggur agar beliau mabuk, dan malam kedua masih beliau teruskan merenggutkan keperawanan anak gadisnya, jadi kacaulah fikiran kita, apalah arti seorang Nabi, seorang Rasul pada pandangan penyusun apa yang mereka namai kitab suci itu. Apakah lagi kalau Nabi Daud, Rasul merangkap raja, mengintip orang perempuan mandi, lalu bersyahwat melihatnya, lalu suaminya dikirim ke front paling depan di medan perang supaya dia mati, lalu isterinya diambil, siapalah jadinya Nabi Daud itu. Demi­kian juga Sulaiman, puteranya, Nabi dan Rasul pula, merangkap raja, karena terpengaruh oleh isterinya yang banyak di hari tuanya telah menyembah berhala.

Demikian pula Harun, Wazir dari Musa, laksana Presiden dan Wakil Presiden, berjuang menantang pertuhanan sesama manusia, menegakkan Tauhid terhadap Allah Yang Maha Esa, menantang Fir'aun dan selalu berdiri di dekat saudaranya. Tiba-tiba setelah saudaranya yang gagah perkasa itu pergi menghadap Tuhan , dia menyuruh menanggalkan perhiasan-perhiasan emas pada perempuan , lalu menempanya menjadi berhala .

Inilah rupanya yang dicoba-coba orang pula memasukkannya ke dalam pokok pegangan Islam . ke dalam al-Qur'an sendiri tidak lantas angan memasukkannya . sebab al-Qur'an telah terpelihara dari segala usaha hendak merusaknya , menambahnya dan mengobah-ngobahnya (tahrif) . Tetapi mereka dapat akal lain ; datang Ka'ab al-Ahbar , Wahab bin Munabih , as-Suddi dan lain lain , lalu mereka karangkan ceritera-ceritera ganjil semacam cerita Nabi Idris a.s , nabi yang mengecoh Malaikat Maut
lalu masuk ke dalam syurga dan tidak mau keluar lagi dari sana , untuk selama-lamanya .

Kesimpulan ialah bahwa Nabi Idris adalah tersebut namanya di dalam al-Qur'an . Dia adalah Nabi , Dia adalah Shiddiq dan bersama dengan Ismail dan Zulkifli . Nabi Idris itu adalah seorang Nabi yang mempunyai pula sifat sabar ( surat 21 , al-Anbiya 85) .

Kita boleh menafsirkan luas dan panjang . Tetapi janganlah melewati garis yang tiga itu , dia Nabi , dia Shiddiq dan dia Shabir .

Adapun mengecoh malaikat , meminta kepada Tuhan membuiat kemarau suatu negeri sampai 20 tahun , atau merebut makanan yang akan dimakan oleh anak kecil , sampai anak itu mati , sangatlah berlawan dengan ketiga sifat yang amat utama itu .

Meskipun dikatakan bahwa setelah anak itu meninggal karena makanannya dirampas , Idris mendo'akan kepada Tuhan agar anak itu hidup kembali , lalu diapun hidup ; tidak jugalah cara yang begini sesuai dengan kepercayaan kita akan kemuliaan budi seorang Nabi Allah .

Karena denga cara demikian orang menganggap seolah-olah Idris menghidupkan anak yang telah mati itu adalah sebagai permainan seorang tukang sulap saja . Perhatikanlah di dalam al-Qur'an kisah mu'jizat Rasul-rasul . Memang jauh bedanya riwayat yang dibawakan oleh wahyu Ilahi dengan dongeng yang dikarang oleh manusia .

0 komentar:

Poskan Komentar