Beginilah Seharusnya Para Aktivis Dakwah Anti Pemurtadan Bergerak!

Rabu, 23 Mei 2012


JAKARTA (VoA-Islam) - Menjelang Natal, sudah menjadi pemandangan biasa, aktivis gereja membagi-bagi parcel, hadiah berbagai macam produk, kepada masyarakat Muslim. Masih ingat Bekasi Berbagi Bahagia (B3), ketika seorang nenek dan gadis berjilbab tanpa disadari telah dibaptis oleh panitia berkedok sosial? Bagaimana sikap kita?
Buatlah program yang sama, yang jauh lebih hebat. Lawanlah pemurtadan, dengan senjata yang sama. Ajak jalan-jalan Pemulung rekreasi ke Puncak atau Dufan, perbanyak rumah singgah. Jika mereka bikin 10, kita bikin 20 rumah singgah. Fungsinya bukan sekadar tempat berteduh, tapi sebagai bengkel karya, sanggar, rumah baca, sarana pelatihan agar hidup mandiri.
Umat Islam jangan kalah strategi. Setiap hari Ahad, pihak gereja biasa menyediakan anggaran dan kendaraan untuk mengajak anak-anak dan remaja piknik. Bukan hanya itu, gereja juga menyediakan makanan yang disukai anak-anak. Sambil piknik mereka nyanyi sama-sama: “Dalam Tuhan kita bersaudara.”
Tak dipungkiri, Bekasi adalah salah satu kawasan yang menjadi target missionaris. Kandati, banyak ustadz dan aktivis dakwah berkumpul di Bekasi sebagai front terdepan. Tapi, ironinya, gerakan pemurtadan tetap kecolongan juga. Ternyata, membendung pemurtadan, tak cukup hanya dengan Tabligh Akbar. Harus lebih peka dengan apa yang butuhkan umat.
Kemiskinan  mendekatkan diri pada kekufuran. Maka, umat harus diberi pendidikan, ekonominya ditingkatkan. “La ikra ha fiddin. Tidak ada paksaan dalam beragama. Serukan manusia ke jalan Tuhanmu dengan cara yang baik,  siapa yang disesatkan siapa yang diberi petunjuk. Dakwah harus menggunakan dengan cara yang cerdas dan thayyib:  dengan lisan, tangan dan hati. Dakwah bukan dengan kekasaran, karena akan membuat orang lain benci. Bukan kepada orangnya, tapi benci pada agama yang diajarkan.
Perlukah laskar turun untuk membendung Kristenisasi? Tetap saja perlu jika dibutuhkan, tapi harus disertai pula dengan pemberdayaan ekonomi. Lebih baik mengunci pintu masuknya. Tentu, tidak semata memperbanyak masjid, tapi perkuat akidah umat, bangkitkan  ekonomi dan status sosialnya, bina agar mandiri. Itu juga perlawanan. Bila akidah sudah kuat, ekonomi umat lebih berdaya, gerakan pemurtadan tidak akan mempan, meskipun terus diprovokasi dan diiming-imingi.
Pada akhirnya, membendung Kristenisasi dan gerakan pemurtadan, bukan hanya tanggungjawab para kristolog dan lembaga anti pemurtadan, tapi kita semua yang peduli dengan nasib umat ini. Kita punya semangat  dan potensi. Tinggal, bagaimana kita bergerak dan menyatukan langkah.
Perlu diketahui, kini banyak umat Kristiani di Eropa meninggalkan agamanya (Kristen). Banyak gereja yang dijual dan berubah fungsi menjadi masjid. Begitu juga di AS, terjadi gelombang besar-besaran, perpindahan dari Nasrani menjadi Muslim. Aneh, Islam justru berkembang pesat di Barat. Tapi, di negeri muslim, justru sebaliknya, kembali murtad dan menjadi liberal. Tentu hal ini membuat kita terheran-heran. Desastian

0 komentar:

Poskan Komentar