Kebenaran Pelecehan Seksual di Lingkungan Gereja Katolik

Jumat, 06 April 2012



Para uskup Katolik Roma di Belanda melindungi dan menutup-nutupi praktek pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur di lingkungan gereja Katolik Roma. Demikian laporan setebal 1200 halaman berjudul: "Seksueel Misbruik van Minderjarigen in de Rooms Katolieke Kerk".

Laporan yang disusun atas permintaan pihak gereja dan dipimpin mantan menteri Wim Deetman itu, menyebutkan ada lebih dari 20.000 korban pelecehan seksual sejak akhir Perang Dunia II sampai tahun 1981.

Robert Chesal jurnalis Radio Nederland membongkar praktek-praktek pelecehan seksual yang sampai menimbulkan skandal nasional ini.

Tahun 2010 bisa dibilang menjadi momentum bagaimana pelecehan seksual di lingkungan gereja Katolik Roma mencapai skala nasional. Sampai bulan Februari pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur oleh rohaniwan-rohaniwan Katolik hanya dilihat sebagai masalah yang terjadi di Irlandia dan Amerika saja.

Skandal Jerman
Di bulan yang sama, saat musim dingin mencekam Eropa utara, isu tersebut terus menyebar. Sebuah sekolah internat yang dikelola oleh rohaniwan Katolik Yesuit di Berlin ibu kota Jerman semula melaporkan adanya segelintir murid yang menjadi korban pelecahan seksual.

Tidak lama kemudian, jumlah korban menjadi puluhan. Bahkan sampai lebih dari seratus.

Robert Chesal pertama kali mendengar laporan tersebut pertengahan Februari. Pada hari yang sama Paus Benedictus XVI memerintahkan seluruh jajaran keuskupan Irlandia untuk menghadap ke Vatikan. Mereka ditegur oleh Sri Paus karena gagal menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran seksual di diakoni mereka.

Robert Chesal tergerak untuk menyelidiki apa yang mungkin terjadi di Belanda.

Selesian
Di internet jurnalis Radio Nederland itu menemukan pengakuan seorang pria bernama Janne Geraets yang kini berumur 50-an. Ia menulis bahwa ia pernah menjadi korban pelecahan seksual di sebuah sekolah internat tahun 1960-an.

Ketika bertemu, Geraets menceritakan kepedihan dan kehancuran yang ia alami karena ulah seorang biarawan Salesian. Riwayat hidup Geraets yang memilukan begitu membekas dalam benak Robert Chesal sampai ia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan.

Pratanda mengganggu
Beberapa kasus yang mencemaskan di Belanda tidak sampai menarik perhatian media nasional. Seorang pengacara terkenal misalnya, menceritakan di internet mengapa ia mengundurkan diri sebagai salah seorang pengurus Yayasan Katolik Roma yang memberikan bantuan kepada korban pelecehan seksual.

Semua pengurus yayasan akhirnya mengundurkan diri karena usulan mereka untuk membantu korban pelecehan seksual, tidak digubris oleh Dewan Keuskupan Belanda.

Tuduhan bertubi-tubi
Janne Geraets hanya satu dari sekian murid yang menjadi korban pelecehan seksual di sekolahnya. Robert Chesal kemudian menghubungi Joep Dohmen seorang wartawan ivestigasi kawakan koran NRC Handelsblad. Keduanya menulis sebuah artikel mengenai tiga murid yang menjadi korban pelecahan seksual oleh biarawan Salesian.

Robert Chesal dan Joep Dohmen juga membongkar pelecehan seksual yang melibatkan monsinyur Ad van Luyn salah seorang uskup yang sangat dihormati di Belanda. Tulisan di NRC Handelsblad tanggal 26 Februari 2010 memancing laporan pelecehan seksual di sekolah-sekolah inernat di seluruh Belanda.

Pengaduan lewat internet membanjir sampai tidak bisa lagi dilayani. Beberapa minggu kemudian dibentuk sebuah komisi pengusut dibawah pimpinan mantan menteri pendidikan Wim Deetman.

Paus memicu amarah
Semakin jelas, pelecehan seksual di lingkungan gereja Katolik menjadi skandal Eropa. Dari Jerman, Belanda, Belgia sampai Austria praktek pelecehan seksual menjadi topik aktual semua media. Permintaan maaf Paus Benedictus atas pelecehan seksual beberapa dasawarsa lalu di depan jemaat sebuah gereja di Irlandia, memicu kemarahan.

Warga Jerman dan Belanda bertanya-tanya, mengapa mereka tidak digubris? Mengapa mereka diperlakukan lain dari korban di Irlandia?

Vatikan tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Sebaliknya seorang kardinal yang dekat dengan Paus menyebut skandal-skandal pelecehan seksual itu hanya sebagai "gosip murahan". Pada sebuah perayaan "Jumat Agung" seorang pengkhotbah Paus membandingkan tuduhan terhadap rohaniwan yang terlibat skandal pelecehan seksual dengan penyiksaan warga Yahudi Eropa.

Sangkalan Simonis
Seperti di Vatikan, humas gereja-gereja di Belanda juga kurang memberikan citra yang positip. Pucuk pimpinan gereja Katolik Belanda Kardinal Simonis membuat publik terhentak ketika ia menyangkal bahwa para pemimpin gereja Katolik Belanda tahu tentang skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur di lingkungan mereka.

Ucapan Simonis begitu bertolak belakang dengan laporan Robert Chesal dan Joep Dohmen beberapa bulan kemudian bahwa Simonis memindahkan seorang biarawan pedofil ke tempat lain di mana ia kemudian melanjutkan kembali praktek pelecehan seksual dengan anak-anak di bawah umur.

Dampak jangka panjang
Insiden seperti itu yang banyak dijumpai Komisi Deetman sewaktu melakukan penyelidikan. Diperkirakan separuh dari 10 sampai 20.000 korban pelecehan seksual antara tahun 1945 sampai 1980-an yang mendapat perawatan medis, merupakan korban pelecehan seksual yang berlangsung lebih dari setahun.

Fakta membuktikan bahwa pelecehan seksual yang begitu lama, bisa berdampak seumur hidup baik fisik maupun psikologis.

Dalam reaksi pertamanya atas laporan Komisi Deetman, Uskup Gerard de Korte mengatakan bahwa pimpinan gereja salah memilih. Bagi mereka, melindungi biarawan yang melakukan pelecehan lebih penting dan juga citra gereja lebih penting dari nasib korban.

Keadilan
Apakah penyelidikan Robert Chesal itu merupakan karir puncaknya di Radio Nederland? Ia tegas menjawab, tidak. "Saya bukan menjadi jurnalis untuk membongkar skandal pelecehan seksual di lingkungan Gereja Katolik Roma. Saya menjadi jurnalis karena ingin menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam kaitan itu, laporan Komisi Deetman membawa saya lebih dekat dengan cita-cita itu," katanya lugas.

0 komentar:

Poskan Komentar