Teologi Kristen Pro-Isarel

Rabu, 18 April 2012

alt
Untuk menopang teologi rasialisnya, mereka mengutip ayat-ayat Bibel dengan gaya ‘semau gue’ secara parsial

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Adil dalam segala ketentuan, peraturan dan takdir-Nya. Dengan keadilan yang mutlak, Dia tidak akan menilai dan memandang umat manusia berdasarkan penampilan lahiriah, melainkan berdasarkan ketakwaan dan amal shalih masing-masing hamba-Nya. Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Qs. Al-Hujurat 13).

Belakangan, jagat teologi diramaikan dengan munculnya para pendeta dan penginjil pro-Israel yang menjajakan teologi rasialis. Berbagai buku dan brosur mereka sebarkan secara gratis untuk menanamkan teologi pro-Israel dan anti-Arab, di antaranya: “Siapakah Yang Bernama Allah itu?” (27 halaman), “Kristus dan Kristen dalam Al-Qur’an” (76 halaman), “Yesus Bukan Allah Tetapi Eloim” (69 halaman), brosur “Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim” (6 halaman), brosur “Stop!! Siapakah yang bernama Allah itu?” (6 halaman), majalah Midrash Talmiddim edisi 3, dll.

Kesimpulan semua buku tersebut seperti koor yang mengajarkan fanatisme rasial kepada Israel dan kebencian teologis terhadap segala yang berbau Arab. Ide yang menonjol adalah mengganti seluruh istilah dari bahasa Arab dalam teologi Kristen, dengan istilah-istilah Israel (bahasa Ibrani). Misalnya: mengganti kata “Allah” dengan “Yahweh,” kata “Tuhan” diganti dengan “Adonai,” “Yesus Kristus” diganti dengan “Yeshua Hamasiah,” dll. Kristen Israel ini keukeuh dengan dalih bahwa Israel adalah rujukan iman Kristen.

Soal ide membuang seluruh istilah Arab dari kekristenan, kita tidak perlu ikut campur. Silahkan mereka berpolemik internal dengan lembaga resmi Katolik dan Protestan untuk merombak seluruh istilah yang sudah telanjur mereka pakai. Silakan mengganti nama kitab suci “Alkitab” atau “Bible” dengan istilah Ibrani. Ganti saja semua nama-nama surat dalam Bibel: Hakim-hakim, Pengkhotbah, Kisah Para Rasul, Kitab Wahyu, dll karena semuanya istilah Arab. Silahkan merombak seluruh istilah Arab dalam ribuan ayat, misalnya: silsilah, nabi, rasul, kudus, ilah, dll. Jangan lupa, nama agama “Kristen” juga harus diganti, karena ini bukan bahasa Ibrani, tapi istilah Yunani.

Untuk menopang teologi rasialisnya, mereka mengutip ayat-ayat Bibel dengan gaya “semau gue” secara parsial. Pada halaman 1 misalnya, mereka mengutip kitab Kejadian 17:18-19, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak memperkenankan leluhur bangsa Arab, yaitu Nabi Ismail untuk hidup di hadapan-Nya. Ayat yang ditampilkan adalah sbb: 

“Dan Abraham berkata kepada Tuhan: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak.” (Kej. 17:18-19).

Kutipan tak utuh ini memberikan pengertian seolah-olah Ismail tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham) memohon kepada Tuhan agar Ismail anaknya diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, permohonan itu ditolak mentah-mentah dengan satu kata “Tidak!”

Kesimpulan bahwa Nabi Ismail adalah nabi yang tidak diberkati Tuhan ini ditonjolkan untuk menanamkan sikap kebencian anti Arab, karena Ismail adalah leluhur bangsa Arab, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Benarkah tuduhan pendeta rasialis itu, mari kita baca ayat selengkapnya satu perikop: “Lalu sujudlah Abraham, tetapi ia tertawa ketika berpikir, “Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sara melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?” Lalu berkatalah ia kepada Allah, “Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli waris saya.” Tetapi Allah berkata, “Tidak. Sara istrimu akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakannya Ishak...” (Kejadian 17:17-19, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Dengan membaca ayat secara utuh, jelaslah maksud ayat yang sesungguhnya adalah kisah tentang Nabi Ibrahim yang merasa ragu usianya (100 tahun) dan usia istrinya (90 tahun) untuk bisa melahirkan seorang bayi. Maka Ibrahim sudah merasa cukup dengan anak tunggal dari istri keduanya, Hagar, sebagai pewarisnya. Tuhan menjawabnya pernyataan optimis bahwa Ibrahim akan dikaruniai anak yang kedua, Ishak sebagai ahli warisnya juga di samping Ismail.

Pengertian ini sinkron dengan Alkitab tahun 1941: “Maka sembah Ibrahim kepada Allah: Ya Tuhan, biar apalah Ismail sahaja hidup di hadapan-Mu Maka firman Allah: Bahwa sesungguhnya Sarah, istrimu itu beranak kelak bagimu laki-laki seorang; hendaklah engkau namai akan dia Ishak.”

Ajaran rasialis pendeta ini kontradiktif dengan ayat Bibel yang menyatakan Tuhan tidak menilai dan membeda-bedakan orang berdasarkan jasad lahiriah, suku bangsa dan status sosial, kecuali menurut ketakwaan dan amal shalih: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamal¬kan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:34-35).

Bila Tuhan menilai seseorang berdasarkan amal perbuatannya, maka siapapun yang bersalah akan menerima hukuman atas kesalahannya, tak peduli dari bangsa apa dia. Keputusan dan keadilan Tuhan tidak bisa disuap dengan ras Israel.

“Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang” (Kolose 3:25).

“…Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap” (Ulangan 10:17).

Bila para Kristen rasialis itu tetap memaksakan kitab Kejadian sebagai legitimasi untuk mengklaim Nabi Ismail dan bangsa Arab keturunannya sebagai umat yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, maka ayat-ayat Bibel di atas harus disensor.

Tudingan Kristen Israel bahwa Nabi Ismail dan keturunannya (bangsa Arab) sebagai bangsa yang tidak diberkati Tuhan, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bibel sendiri membantahnya dengan fakta-fakta sbb:

Pertama, Allah juga menurunkan berkat-Nya kepada keturunan Ibrahim dari istrinya, Hagar (Kejadian 17:20). Kedua, Tuhan berkenan menerima domba pengorbanan yang dipersembahkan oleh Kedar dan Nebayot (Yesaya 60:7). Padahal Kedar dan Nebayot itu menurut Bibel adalah anak kandung Nabi Ismail (I Tawarikh 1:28-29).

Jika Tuhan tidak memperkenankan Nabi Ismail dan seluruh keturunannya hidup di hadapan-Nya, mengapa Tuhan menerima pengorbanan domba putra kandung Nabi Ismail?

Jelaslah bahwa semua bangsa layak diberkati Tuhan jika beriman dan bertakwa kepada-Nya. Justru, yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan adalah teologi rasialis Kristen Israel itu!!

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

 
Israel Sumber Iman atau Inspirasi Kejahatan?

Para pendeta Kristen rasialis ingin berkiblat 100 persen kepada Israel, dengan satu apologi bahwa rujukan iman Kristen bukan dari Arab, tapi dari Israel.

“…Sebab nara sumber iman Nasrani bukan dari orang Timur Tengah Arab, tetapi dari orang Israel. Mzm 147:19-20, Yes 2:3, Rm 3:1-2.” (Siapakah Yang Bernama Allah itu, hlm. 15).

Keyakinan ini harus ditinjau ulang karena tidak sesuai dengan fakta-fakta Alkitabiah. Dalam Bibel, Nabi Musa menjuluki orang-orang Israel sebagai “orang degil” dan “tegar tengkuk” terhadap Tuhan (Ulangan 31: 27) dan “penentang Tuhan” (Ulangan 9: 24). Mikha menyebut bani Israel sebagai “orang yang muak ter¬hadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus,” karena para kepalanya memu¬tus¬¬kan hukum karena suap, dan para imamnya mem¬beri peng-ajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang (Mikha 3: 9-11).

Dalam Perjanjian Baru, Yesus yang notabene diutus Tuhan khusus untuk bani Israel (Matius 10: 5-6), dan sering menunjukkan mukjizat kepada kaumnya, ternyata ditolak mentah-mentah. Bahkan sebagai balas budinya, mereka melakukan penganiayaan dan kekejian terhadap Yesus. Berbagai ayat Bibel mengisahkan Yesus dikhianati, ditangkap, disiksa, dicambuk, ditelanjangi, diludahi, disesah, diarak, dan disalib dengan cara keji sampai mati dengan tragisnya.

Tak heran jika Yesus mencerca mereka dengan panggilan “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!” (Matius 23:33) dan “angkatan yang jahat” (Matius 12:39).

Itulah tipologi bangsa yang menjadi rujukan iman para pendeta Kristen Israel. []

0 komentar:

Poskan Komentar