Detik-detik Akhir Israel

Selasa, 15 Mei 2012

 Oleh : Dr. Shamel Sultanov (Ketua Pusat Kajian Strategi Rusia dan Dunia Islam)


Stalin dan Truman
Negara bernama Israel muncul pada Mei 1948 sesuai dengan keputusan Majlis Umum PBB pada November 1987. Resolusi ini sangat berbau formalitas belaka. Sebab pendirian negara yahudi buatan di jantung dunia Arab hanya mungkin dilakukan dengan niat-niat strategis elit Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu yang merupakan negara terkuat pasca perang dunia.

Faktor spirit dan emosi terkait nasib yahudi di Eropa setelah penjajahan Nazi beperan dalam diri Stalin dan Truman. Tujuan terpentingnya berbeda. Uni Soviet dan Amerika melihat bahwa negara yahudi ke depan bersifat sebagai alat efektif merealisasikan kepentingan mereka jangka panjang di Timteng.

Usai perang dunia II, mulai dilakukan pembagian wilayah-wilayah kekuasaan antara dua kekuatan baru di dunia. Wilayah terpenting bagi para politisi adalah di Timur Tengah. Tak spontan bila Stalin ingin Libia di bawah penjagaan Uni Soviet.

Namun kawasan Timteng sekitarnya masih dalam kekuasaan negara-negara imperialisme saat itu Inggris dan Perancis. Padahal Paris dan London saat keluar dari perang dunia II dalam kondisi lemah namun melepaskan kawasan Timteng yang kaya minyak adalah hal yang tidak pernah mereka diprediksi.

Rencananya, Israel akan menjadi buldoser dengan remot control yang bisa membantu membuka jalan ke kawasan baik bagi Uni Soviet (seperti yang diinginkan Stalin) atau Amerika (seperti yang diinginkan Truman). Namun yang salah perkiraan adalah Stalin. Ia mengirim ke Palestina (saat wilayah ini masih dikuasai oleh mandat Inggris) ribuan komandan pasukan dan intel yang dia yakini masih dipercaya dari kalangan yahudi komunis yang akan membantu Israel “sosialis”. Namun buktinya “seruan darah yahudi” lebih kuat ketimbang idelogi komunis. Dalam waktu cepat Stalin dibuang keluar.

Kegagalan bersahabat dengan Israel inilah yang membuat Stalin benci bukan kepalang kepada Israel dalam kehidupan politiknya. Suatu ketika di tahun 1917, Stalin mengusulkan agar melakukan aksi “pembersihan” besar-besaran di kalangan partainya dari kekuasaan unsur yahudi. Akhirnya Stalin pun terbunuh. Namun kecenderungan memusuhi Israel masih kuat mengakar di kalangan penerusnya bahkan hingga Gorbacev.

Namun situasi itu tidak bersih dari hubungan Amerika dan negara yahudi. Pemimpin Israel generasi awal lebih memilih bergantung kepada hubungan tradisional dengan Eropa, tempat pusat-pusat zionisme dunia. Apalagi pasca perang dunia II Amerika ramai gerakan anti semit, bukan hanya di kalangan rakyat namun juga elit politik.

Karenanya, Israel bersanding dengan Inggris dan Perancis dalam perang segitiga terhadap Mesir tahun 1956 setelah Jamal Abdul Nasher menguasai terusan Suez. Ini pertama kalinya negara Israel ikut perang dengan tetangga Arabnya tanpa persetujuan dari Washington.

Moskow mendukung Mesir saat itu. Elit Uni Soviet menegaskan bahwa jika perang tidak dihentikan langsung, 300 ribu kaum muslim Soviet akan berbondong membantu saaudara mereka di Mesir. London dan Paris minta tolong Amerika. Koalisi segitiga pun bubar dan sejak itu Israel sadar pentingnya fokus bersahabat dengan Mesir.

Koalisi jangka panjang Amerika dan Israel, selain untuk kepentingan Amerika juga untuk kepentingan struktur zionisme dunia yang berkembang cepat.

Kelompok kanan ekstrim Amerika melihat bahwa operasi yang berujung pembentukan sistem penjajahan zionis sementara di Amerika mulai menguat di pertengahan tahun 50an, terutama ketika Partai Demokrat berkuasa. Para pendukung zionisme di Amerika menggunakan trend Israel saat itu untuk menatukan masyarakat yahudi dan modal mereka untuk menguatkan sikap politiknya di sana.

Maka dibentuklah ratusan ribu organisasi dan lembaga pendudukung – mobilisasi - Israel dari semua lini. Di antara lobi yahudi, desain politik SDM untuk bidang keuangan dan media, dukungan fasilitas untuk penentu kebijakan politik Amerika. SDM media dan politik digerakkan secara massiv untuk mendukung koalisi Amerika Israel dan dibuat kampanye ideologi dan propagandis khusus.

Periode tahun 1967 – 2006 adalah era keemasan koalisi Amerika Israel. Sampai-sampai Iran Syah dan Turki bergabung dalam anggota NATO.

Israel mengkoordinir operasi militer terhadap Arab dengan Pantagon langsung. Bahwa Washington membekali Israel dengan senjata nuklir. Amerika pun menjadi hegemonis di era tahun 1990an di dunia Arab pasca hancurnya Uni Soviet.

Ini berlangsung hingga era Bush senior dan junior. Di masyarakat Amerika terbentuk koalisi-koalisi sosial politik yang luas antara zionis dan zionis protestan (kristen) hingga membentuk satu poros “neo konservatif” yang memiliki pandangan; apa yang baik bagi Amerika baik pula bagi Israel, dan sebaliknya. Sebagian elit Amerika juga yang merancang aksi 11 September sebagai alasan perang atas dunia Islam, kompetitor utama Israel, menurut pandangan zionisme internasional.

Dialegtik Polemik
Namun sejarah ibarat jiwa berwatak ganda. Sejarah bergerak tanpa diprediksi manusia. Pada saat Israel menjadi alat penting bagi politik Amerika di Timteng, pada saat itu pula, negara zionis ini berubah menjadi faktor utama tumbuhnya radikalisme di Timteng.

Disaat Israel ia menjadi pangkalang kuat bagi peradaban barat di kawasan Timteng, demokrasi dan sekularisme. Namun keberadaan Israel sendiri menjadi pemicu utama kebangkitan Islam yang di dunia. Lebih dari itu, kalau bukan karena Israel, maka tidak akan terjadi kemunduran cepat bagi ideologi liberal sekuler dan partai yang mengusungnya di dunia Arab.

Israel Amerika kini menjadi simbol kezhaliman mutlak bagi jutaan kaum muslimin. Israel dan Amerika menjadi simbol kezhaliman amoral, imperialis, dan musuh tanpa rasa kasih sayang yang tidak pahak kecuali dengan bahasa kekuatan. Israel menjajah tanah milik Palestina yang sudah dihuni ribuan tahun dengan alasan bodoh; bahwa yahudi pernah tinggal di sana dan kemudian mereka diusir. Seakan dengan faktor ini saja mereka memiliki hak historis menguasai tanah Palestina. Namun hari ini bahkan pakar Israel sendiri membuktikan bahwa yahudi sebenarnya tidak pernah diusir oleh Romawi dari tanah Yahuda saat itu.

Namun yang menentukan sebenarnya juga adalah cita-cita politik Stalin dan Truman.

Perjuangan bangsa Palestina selama tujuh dekade melawan Israel membuahkan hasil berkembangnya kesadaran nasional, sosial dan politik Palestina. Bangsa Palestina kini menjadi bangsa paling “maju” dan pemberani di dunia. Misalnya, prosentase jumlah pelajar Palestina dari 1000 penduduk melebihi prosentase pelajar di Rusia. Jumlah syuhada Palestina selalu menjadi kebanggaan bagi setiap penduduk Palestina. Sementara Israel justru menyebutkan kematian sebagai hal yang menakutkan.

Kalau tidak ada Israel, barangkali Jalur Gaza sudah digabungkan dengan Mesir dan Tepi Barat digabungkan ke Jordania.

Anda perlu tahu, perjuangan melawan Israel pulalah yang menjadi motivasi munculnya revolusi Iran tahun 1979-1978. Sebab Shah Iran adalah teman dekat Israel. Keberadaan Israel di Timur Tengah pulalah yang menjadi penyebab penting naiknya kekuatan Islam fundamental moderat ke kekuasaan di Iran dan Turki. Akibatnya, kini terjadi perubahan mengakar dalam perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Belakangan, revolusi Arab yang meletus sangat terasa aroma kebencian terhadap Israel. Politik yang diterapkan Israel secara alami akan meningkatkan gelombang anti semit dunia. Bahkan inilah yang ditengarai oleh pusat-pusat studi yahudi termasuk konferensi yahudi Rusia.

Militer atau Zionisme, Siapa Menang?
Langsung setelah setahun setengah perang Amerika ke Irak tahun 2003, Israel menjadi penyebab konfrontasi baru di internal lembaga politik tingkat tinggi Amerika; antara poros militer dan poros pendukung loyal Israel.

Hingga awal tahun 2005, Departemen Pertahanan Amerika menyimpulkan bahwa mengalahkan “kelompok pemberontak” dan mengendalikan Irak secara efektif adalah hal mustahil. Perang Irak secara esensial telah menjadi kesyirikan geopolitik Amerika sebab Irak yang terjajah menjadi titik pengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah sebagai lumbung kepentingan Amerika. Perang Irak menyebabkan ketergantungan Amerika kepada Iran semakin besar.

Akibatnya, muncul polemik panas di kalangan elit politik Amerika soal siapa yang bertanggungjawab atas spekulasi perang Irak yang merugikan ini? Digelar puluhan sidang, workshop khusus, ratusan artikel ditulis dan sejumlah buku dikarang untuk menganalisis kekalahan ini.

Poros militer AS itu menudukung politik neo konservatif dan pemerintahan Bush junior telah membuang Cuma-Cuma aset termahal Amerika dalam perang Afganistan dan Irak. Kesimpulan akhirnya, pemeran utama dalam memicu perang adalah lembaga-lembaga Israel dan lobi yahudi pendukung Israel. [Dimuat di harian Zavtara Rusia, edisi 29 Juni 2011.

 
Desember 2006, Menhan baru Amerika dipilih, Robert Gets, seorang elit Amerika dan ketua lobi militer Amerika. Pemilihannya diperkirakan akan merevisi banyak kebijakan politik luar negeri Amerika. Pemilihannya ditentang oleh wakil presiden Dick Cheney, pimpinan sesungguhnya dari aliran Neo Konservatif.

Tahun 2008, di kota Philadelpia di bulan Juni digelar sidang rahasia perwakilan elit Amerika dengan Barack Obama dan Hillary Clinton. Dengan tekanan lobi militer, mereka sepakat presiden mendatang adalah Barack Obama. Namun Hillary Clinton yang diandalkan oleh zionisme internasional harus mendapat gantinya sebagai Menlu AS.

Pasca Pilpres, konflik di level elit tinggi Amerika tidak berhenti. Lobi Israel tidak akan memberikan peluang kepada Obama dan orang di belakangnya dari elit militer AS untuk memilih kandidat mereka yang dituding memiliki gaya pemikiran anti Israel.

Konfrontasi dingin di internal elit AS semakin panas bersamaan dengan meningkatnya program nuklir Iran. Pihak poros militer Amerika menuding Israel bersama penggembalanya dari organisasi-organsasi zionis internasional berusaha menyulut perang langsung antara Amerika dan Iran. Militer manapun yang berakal dan berfikir logis akan menyadari bahwa perang semacam ini akan mengakibat kondisi yang berada di luar kendali dan akan menyulut perang besar di kawasan bahkan menjadi perang internasional.

Pertanyaan penting; kenapa elit Israel yang hegemoni sekarang, terutama gerakan zionisme internasional membutuhkan perang antara Iran dan Amerika yang bisa menyebabkan akibat sangat buruk, bahkan bagi bangsa yahudi sendiri?

Masalahnya sangat krusial hingga Zbigniew Brzezinsk yang terkenal itu terpaksa mengumumkan bahwa jika pesawat tempur Israel menggempur Iran, maka Amerika akan terpaksa menghalanginya di atas udara Irak agar Israel kembali ke pangkalan mereka.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Badan Intelijen Amerika merilis prediksinya yang meragukan peluang Israel bisa bertahan hingga tahun 2025.

Setelah itu jenderal David Petraeus sebagai panglima pasukan angkatan darat Pusat Amerika mengeluarkan statemen resmi soal prediksi ini dan menyusul komandan pasukan Amerika di Afganistan. Statemen ini menjadi pertanda meningkatnya ketegangan dalam hubungan militer Amerika dan lobi loyalis Israel.

Di balik format diplomasi realita, tersembunyi pesan tegas kepada elit Israel bahwa politik Israel akan menciptakan masalah-masalah baru bagi Amerika di dunia Islam. Amerika akan membayar harga ketidaklogisan langkah Israel dengan darah pasukan Amerika bahkan kerugian dana yang amat besar serta melemahkan sikapnya di Timteng. Ini terjadi pada saat kemampuan politik dan ekonomi Amerika di seluruh dunia menurun dan Cina berubah menjadi penantang serius bagi strategi Washington.

Berbeda dengan sikap Amerika dan Eropa, mayoritas elit Israel sekarang ini tidak ingin kesepakatan hakiki dengan Palestina. Mereka tidak akan pernah sepakat dalam kondisi apapun dengan berdirinya negara Palestina merdeka. Negara Israel saat ini berdiri di atas prinsip yang tidak mungkin hidup (bertahan) kecuali dalam kondisi “tidak perang dan tidak damai”, dan Israel tidak akan melepaskan wilayah jajahannya.

Kesimpulannya, Israel tidak akan mampu (tidak sudi) masuk (berbaur) dalam rezim kawasan Timteng. Padahal sejarah membutikan bahwa negara-negara yang tidak mampu membaur di kawasan sekitar (misalnya imperium kaum Salib) pasti akan hilang dari peta dunia.

Konfrontasi antara poros militer Amerika dan Lobi loyalis Israel menyebabkan semakin tajamnya perbedaan di internal gerakan zionisme internasional. Kedua poros ini berada dalam Israel sendiri.

Pertama; poros “zionis nasionalis” pendukung fanatik tanpa syarat kepada Israel sebagai negara yahudi kebangsaan, apapun harga dan risikonya. Mereka saat ini masih menguasai internal gerakan zionisme internasional, namun sikap-sikap mereka banyak mengalami kemunduran secara bertahap. Ada banyak faktor di antaranya karena daya tarik image Israel sebagai negeri bangsa yahudis seluruh dunia sudah terkoyak dengan keras. Antara masyarakat Israel dan elit sendiri terurai.

Tidak rahasia, runtuhnya moral politik dan sosial di kalangan Israel sudah menjadi fenomena seperti gunung es terutama sejak 20 tahun terakhir. Sebagai contoh Menlu Israel Avigdor Lieberman dicurigai melakukan korupsi, skandal cuci uang dan lain-lain.

Sudah bukan asing bahwa jumlah yahudi yang eksodus ke luar negeri lebih banyak di banding eksodus yang datang ke “tanah yang dijanjikan”.

Poros kedua; di gerakan zionisme internasional yang dikenal dengan imperialisme zionisme yang berkeyakinan bahwa masa depan zionisme bukanlah di Israel namun masa depan ada pada koalisi strategi dengan salah satu sentra kekuatan dunia. Karenanya, mereka menganggap bahwa tidak wajib mengorbankan masa depan masyarakat yahudi dan modal yahudi di Amerika untuk Israel, tapi juga bukan Cina atau Eropa karena sejumlah sebab, yang bisa menjadi koalisi jangka panjang bagi zionisme internasional. Maka yang tersisa hanya dua pilihan: Amerika atau Rusia. Tidak spontan ketika Netanyahu, Lieberman dan pimpinan-pimpinan organisasi zionisme Rusia bertemu dan berbicara secara intens soal koalisi strategi jangka panjang antara Israel dan Rusia.

Sejarah Israel secara formal saat ini secara obyektif harus dikatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kehancuran dan redup. Masalahnya bukan karena pasukan Arab yang secara mengagetkan menguasai wilayah yang dijajah Israel atau karena sebagian kelompok ‘ekstrim’ Palestina mampu secara mendadak melumpuhkan kehidupan ekonomi dan politik secara utuh di negara yahudi. Ini tidak akan terjadi.

Israel adalah negara boneka oleh kekuatan asing untuk menyelesaikan sejumlah masalah dan problema. Tugas Israel sebagai negara boneka ini tidak lagi mampu dijalankan. Sehingga Israel tidak lagi dibutuhkan. [bsyr, InfoPalestina]

0 komentar:

Poskan Komentar